Senin, 01 Agustus 2011

Jaga Lisan, Besar Hati Kunci Ukhuwah

Manusia adalah makhluk sosial dalam artian makhluk yang tidak bisa hidup sendiri atau lebih sederhananya butuh teman. Dalam islam juga ada yang namanya ukhuwah (saudara) yaitu jalinan persaudaraan antara satu dengan yang lain. Tidak bisa kita pungkiri bahwa setiap insan pasti memiliki dan harus memiliki apa yang namanya teman . teman yang mampu menghibur dikala sedih, menasihati dikala salah dll. Imam syafi’I pernah berkata ” 1 musuh terlalu banyak, 1000 teman belum cukup”. Belasan tahun atau bahkan puluhan tahun kita pasti sudah banyak memiliki teman, tapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa setiap kita pasti memiliki rasa benci terhadap seseorang, entah karena cara berfikirnya yang tidak cocok atau cara dia berbicara yang tidak mengggunakan akal (baca; ceplas-ceplos). tapi apakah selamanya kita akan membenci dia dengan sebab itu semua ?? diriwayatkan oleh bukhari dan muslim bahwa nabi saw bersabda ” demi jiwaku yang berada di tanganNya, tidak beriman seorang hamba itu sampai dia mencintai tetangganya (saudaranya) sama seperti dia mencintai dirinya”. benci terhadap tetangga depan rumah yang sudah lama dikenal misalnya, Kita boleh saja membenci seseorang tapi tidak untuk selamanya, nabi saw juga bersabda ” tidak diperbolehkan seorang muslim itu untuk tidak bertegur sapa lebih dari 3 hari ….” (muttafaq ‘alaih), boleh saja kita berkata “ah sapa juga yang butuh dia, urusan kah”, tapi bisa jadi dia akan berguna bagi kita kelak “hari ini boleh jadi kita akan membenci hujan yang turun, tapi sutau saat kita akan berkata ‘kapan ya hujan turun ?’ “. lantas saat ini apa yang harus kita lakukan untuk menjaga yang namanya ukhuwah ini ??
1. Besar hati dan khusnudzon
Besar hati disini bermakna pemaaf. Mungkin ada teman kita ketika berbicara tanpa dia sadari perkataannya cukup menorehkan luka dalam hati (menyinggung) ataupun dia memiliki sifat yang sok tau dan gak mau disalahkan misalnya. Disnilah kita harus mencoba berbesar hati dan berkhusnudzon. Bisa jadi memang cara berbicara dia seperti itu atau mungkin dia tidak sengaja berbicara seperti itu atau bahkan sifatnya udah seperti itu sejak dalam kandungan (kalau ini mah paraaah). Allah swt pencipta manusia dan juga dia maha pemaaf, lantas apa hak kita untuk tidak memaafkan teman yang telah berbuat salah kepada kita ??. tekadang penulis iri dengan ukhuwah penduduk negeri ini (yaman, red). Mereka bukan lagi pemaaf, tapi juga mudah memaafkan.
2. Jaga lisan
Sudah sering kita mendengar pepatah “lisan itu lebih tajam daripada pedang”. Kalo kita merenungi sejenak pepatah di atas memang tak ada yang salah. Adu domba atau naminah itu berasal dari lisan, ucapan yang mampu mempengaruhi seseorang. Ketika dia sedang berkumpul dengan kelompok A dia berkata begitu manis, namun ketika dia berkumpul dnegan kelompok B, dengan mudahnya dia memplintir berita atau menjelek-jelekkan kelompok A. “eh, si fulan tadi ngejek keluarga ente tuh”, “fulan, masa’ bapak ente dibilang koruptor, padahal kan mantan”, jadi inget suatu lagu “lidah tidak bertulang”. ckckckc…
Naudzubillah…
“sesungguhnya setiap orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara mereka dan bertakwalah kepada allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS: al-hujurat 10). Marilah kita semua menjaga ukhuwah, mencoba berbesar hati, menjaga lisan dan juga berkhusnudzon, ketika seseorang mencoba untuk mengislah atau mendamaikan suatu perselisihan maka hendaknyalah kita mendukungnya bukannya malah bersuudzon bahwa dia itu hanya mau mengadu domba. Intinya gunakan telinga dan lisan dengan baik dalam segala hal.
Waallahu a’lam…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar